Kata ini sering di gunakan oleh orang yang tidak berdaya untuk meninggalkan pilihan-pilihan hidup yang tidak beradab, padahal keterlanjuran hanyalah dimensi waktu bagi sebuah tindakan, peristiwa dan juga pilihan-pilihan perilaku manusia.
Ia tidak memberi makna pemaksaan dan ketidakberdayaan tetapi hanya pengulangan secara sadar dan terus menerus atas tindakan-tindakan salah tersebut.
Jika kata terlanjur dipakai sebagai dalil sebuah perbuatan buruk, maka lama kelamaan akan menjadi sikap dan watak, dan bila itu terjadi akan menimbulkan kegelisahan jika tidak melakukan keburukan, fase tersulit bagi jiwa seseorang.
Maka hindarilah dalil keterlanjuran atas perbuatan dosa yang telah kita lakukan, agar kita tak terjebak dalam pengulangan dosa, serta agar kita mudah menyesali dan tidak mengulang perbuatan dosa yang telah kita lakukan.
25 August 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments:
Post a Comment